TATA LAKSANA
SHALAT JUM’AT
A. Pendahuluan
Ibadah Jumat
terdiri dari :
1. Dua khutbah
Jum’at
2. Dua raka’at
shalat Jum’at
B. Hukum Shalat
Jum’at
Shalat Jum’at
hukumnya wajib ‘ain dengan ijmak ulama dan berdasarkan firman Allah, berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ
اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : Hai
orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah
kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(Q.S. al-Jum’at : 9)
C. Syarat-Syarat
Wajib Jum’at
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Laki-laki
5. Merdeka (bukan
hamba sahaya)
6. Bermuqim (tidak
dalam keadaan musafir)
7. Tidak dalam
keadaan ‘uzur (‘uzur Jum’at adalah ‘uzur dalam jama’ah)[1]
CatatanOrang yang
tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, harus melaksanakan shalat dhuhur sebagai
gantinya, kecuali orang gila. Namun, apabila mereka ikut shalat Jum’at,
shalatnya sah sebagai ganti dhuhur
D. Syarat
–Syarat Sah Jum’at
1. Dalam waktu
dhuhur
2. Dilakukan dalam
kawasan yang ada perumahan yang sifatnya tidak sementara
3. Tidak didahulu
Jum’at lain dalam kawasan tersebut, karena tidak boleh ada dua Jum’at atau
lebih dalam satu kawasan kecuali karena kesukaran
4. Berjama’ah
5. Jum’at itu
didirikan oleh empat puluh laki-laki baligh berakal, merdeka dan menetap di
suatu kawasan tidak ada cita-cita untuk berpindah ketempat dalam keadaan apapun
kecuali karena dharurat.
6. Dua khutbah
sebelum shalat.
E. Rukun-Rukun
Khutbah Jum’at
Salat Jum’at
diawali dengan khutbah Jum’at yang dapat dilakukan oleh imam salat atau oleh
orang lain. Khutbah terbagi dua ; khutbah pertama dan khutbah kedua yang dipisah
dengan duduk sebentar. Dalam kitab Minhaj al-Thalibin[3] karangan al-Nawawi
disebutkan isi khutbah harus mengandung lima egara rukun berikut:
1. Memuji Allah,
sekurang-kurangnya :
الْحَمْد ِللهِ
2. Membaca shalawat
kepada Nabi SAW, sekurang-kurangnya :
والصلاة عَلى رسول الله
3. Berwasiat atau
berpesan pada jamaah agar bertakwa, sekurang-kurangnya :
اطيعوا الله
4. Membaca ayat Al
Quran pada salah satu dari dua khutbah.
5. Berdo’a untuk
orang yang beriman dengan segala hal yang bersifat ukhrawi (keakhiratan), namun
boleh dicampur dengan urusan duniawi pada waktu khutbah kedua. Memadai doa
tersebut dengan misalnya :
رحمكم الله
Contoh Lafazh
Khutbah Jum’at pertama secara sempurna :
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ
وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
اما بعد, يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ
حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
بسم الله الرحمن الرحيم.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى
لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ
ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Contoh Lafazh
Khutbah Jum’at kedua secara sempurna :
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ
وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّا بعد ياايها الناس اوصيكم واياي
بتقوى الله وطاعته لعلكم تتقون
بسم الله الرحمن الرحيم.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا
أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى
مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،
إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبّنَا
لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ
عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا
وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا
وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين
F. Sunnat-Sunnat
Jum’at
1. Mandi, waktunya
mulai terbit fajar. Yang utama dekat dengan waktu pergi Jum’at
2. Pergi ke Jum’at
lebih awal
3. Berjalan kaki ke
Jum’at
4. Banyak berzikir
dan qiraah pada waktu pergi dan sesudah berada di mesjid sebelum khutbah
5. Tidak melangkahi
bahu orang dalam mencapai shaf
6. Menggunakan baju
yang bagus, sebaiknya warna putih
7. Memotong kuku
8. Menghilangkan
bau tidak sedap
9. Memperbanyak
membaca Surat al-Kahfi, malam dan siangnya
10. Memperbanyakan
do’a dan shalawat.[4]
G. Yang Haram
dengan Sebab Jum’at
Jual beli atau akad
lainnya sesudah azan saat khatib di atas mimbar. Adapun sebelum itu makruh
H. Syarat-Syarat
Khutbah
1. Rukun-rukun
khutbah tersebut dalam Bahasa Arab
2. Dalam waktu
Dhuhur
3. Berdiri jika
mampu
4. Duduk antara dua
khutbah, kalau khutbah sambil duduk, maka wajib diselang dua khutbah itu dengan
diam sebentar
5. Memperdengarkan
kepada ahli Jum’at
6. Muwalaat
(berturut-turut)
7. Suci dari hadats
dan najis
8. Menutup aurat
I. Sunnat-Sunnat
Khutbah
1. Menyimak khutbah
(tidak berbicara), berdasarkan firman Allah berbunyi :
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ
فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : Dan
apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah
dengan tenang agar kamu mendapat rahmat (Q.S. al-A’raf : 204)
Perintah dalam ayat
ini bermakna sunnat, bukan wajib karena berpedoman dengan hadits riwayat
Baihaqi dengan isnad shahih dari Anas berbunyi :
ان رجلا دخل والنبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة
فقال متى الساعة فأومأ الناس إليه بالسكوت فلم يقبل واعاد الكلام فقال النبي صلى
الله عليه و سلم في الثالثة ماذا أعددت لها قال حب الله ورسوله قال انك مع من
احببت
Artinya : Seorang
laki-laki masuk masjid, sedangkan Nabi SAW sedang berkhutbah pada hari Jum’at.
Laki-laki itu bertanya : “Kapan terjadi kiamat ? ”. Manusia mengisyaratkan
padanya untuk diam, tetapi dia tidak mau menerimanya, bahkan mengulangi lagi
pertanyaannya, maka Nabi Saw bersabda : “Apakah kamu sudah bersiap-siap
untuknya ? “.laki-laki itu menjawab : “Mincintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi SAW
melanjutkan, “Sesungguhnya kamu bersama orang-orang yang kamu cintai.” (H.R.
Baihaqi)
2. Khutbah di atas
mimbar atau tempat yang tinggi
3. Memberi salam
ketika sudah di atas mimbar
4. Duduk sesudah
egara salam
5. Muazzin
melakukan adzan sesudah khatib egara salam
6. Isi khutbah
pendek mudah dipahami
7. Khatib tidak
berpaling kiri atau kanan
8. Memegang
tongkat, pedang atau yang semisalnya
9. Ukuran duduk
antara dua khutbah sekitar ukuran Surat al-Ikhlash.[6]
J. Niat Shalat
Jum’at
Selesai khutbah,
tiba waktunya salat Jum’at. Lafazh niatnya sebagai berikut:
1. Niat shalat
Jum’at bagi makmum:
أُصَلِّي فَرْضَ الُجْمَعةِ رَكْعَتَيْن أَدَاءً
مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ مَأمُومًا ِللهِ تَعاليَ
2. Niat shalat
Jum’at bagi Imam:
أُصَلِّي فَرْضَ الُجْمَعةِ رَكْعَتَيْن أَدَاءً
مُسْتَقْبِلَ الِقبْلَةِ إمَامًا ِللهِ تَعاليَ
K. Hukum
Makmum Yang Masbuq
1. Bagi makmum yang ketinggalan satu
rakaat shalat Jum’at (makmum masbuq), maka dia cukup menambah satu rak’at yang
ketinggalan setelah imam mengucapkan salam.
2. Bagi yang ketinggalan dua raka’at
dan Cuma kebagian sujud atau duduk tahiyat bersama imam, maka harus
menyempurnakan empat raka’at seperti layaknya shalat dhuhur.
3. Bagi yang ketinggalan shalat Jum’at
sama sekali, maka harus mengganti dengan shalat dhuhur
Dasarnya adalah atsar Sahabat Nabi :
قالوا من أدرك ركعة من الجمعة صلى إليها أخرى ومن أدركهم جلوسا صلى أربعا وبه يقول سفيان الثوري وابن المبارك والشافعي وأحمد
وإسحق
Artinya : Mereka mengatakan
barangsiapa yang mendapati satu raka’at dari Jum’at, maka hendak menambah yang
lain kepadanya dan barangsiapa yang mendapatinya dalam keadaan duduk, maka
hendak shalat empat raka’at. Ini termasuk pendapat Sufyan al-Tsury, Ibnu
al-Mubarak, Syafi’I, Ahmad dan Ishaq (R. Turmidzi)
L.
Masalah-Masalah yang Sering diperselisihkan hukumnya di Sekitar Shalat Jum’at
1). Masalah Bilangan Jum’at
Telah terjadi perbedaan pendapat para
ulama mengenai jumlah ahli jum’at yang menjadi persyaratan sahnya shalat jum’at.
Menurut pengarang Kitab I’anah al-Thalibin, terdapat empat belas pendapat
mengenai jumlah ahli jum’at yang menjadi persyaratan shalat jum’at, yaitu :
1. Empat puluh orang termasuk imam,
menurut pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’i. Pendapat ini juga
merupakan pendapat Umar bin Abdul Aziz, riwayat lain dari Ahmad bin Hanbal dan
Ishaq.
2. Satu orang, menurut hikayah Ibnu
Hazmi
3. Dua orang, sama halnya dengan
persyaratan jama’ah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Nakh’i dan ahlu Zhahir
4. Tiga orang selain imam, menurut Abu
Hanifah dan Sufyan al-Tsury
5. Dua orang selain imam, menurut Abu
Yusuf, Muhammad dan al-Laits
6. Tujuh orang, menurut Ikramah
7. Sembilan orang, menurut Rabi’ah
8. Dua belas orang, menurut satu
riwayat dari Rabi’ah dan menurut Malik
9. Dua belas orang selain iman,
menurut Ishaq
10. Dua puluh orang, menurut riwayat
Ibnu Habib dari Malik
11. Tiga puluh orang, juga menurut
riwayat Ibnu Habib dari Malik
12. Lima puluh orang, menurut satu
riwayat dari Ahmad dan Umar bin Abdul Aziz
13. Delapan puluh orang, menurut
al-Maziry
14. Jama’ah yang banyak tanpa batasan
tertentu
Dalam Umairah disebutkan, Abu Hanifah
dan qaul qadim Syafi’i membolehkan shalat jum’at dengan satu imam dan dua
makmum. Al-Bakri al-Damyathi dalam Taqrir I’anah al-Thalibin menjelaskan bahwa
dalam qaul qadim Syafi’i ada qaul yang menyatakan sekurang-kurang ahli Jum’at
adalah empat orang. Qaul ini dihikayah oleh pengarang Talkhis dan pengarang
Syarah al-Muhazzab serta telah dipilih oleh al-Muzni dan ditarjih oleh Abu Bakar
ibn Munzir. Al-Suyuthi juga memilih qaul ini, karena menurut beliau, qaul ini
merupakan qaul Syafi’i yang didukung oleh dalil. Disamping itu, termasuk dalam
qaul qadim adalah pendapat yang menyatakan ahli Ju’mat adalah dua belas orang.
Adapun dalil-dalil penetapan ahli
Jum’at, sekurang-kurangnya empat puluh orang, antara lain hadits riwayat
Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari bapaknya Ka’ab bin Malik,
أنه كان إذا سمع النداء يوم الجمعة
ترحم على أسعد بن زرارة فقلت له إذا سمعت النداء ترحمت لأسعد قال لأنه أول من جمّع
بنا في هزم النَبيتِ من حَرّة بني بَياضةَ في نَقيع يقال له نقيع الخَضِمات قلت له
كم كنتم يومئذ قال أربعون
Artinya : Sesungguhnya Ka’ab bin
Malik apabila mendengar azan pada hari Jum’at, mendo’akan rahmat untuk As’ad
bin Zararah. Karena itu, aku bertanya kepadanya : “Apabila mendengar azan,
mengapa engkau mendo’akan rahmat untuk As’ad ? Ka’ab bin Zararah menjawab :
“As’ad adalah orang pertama yang mengumpulkan kami shalat Jum’at di sebuah
perkebunan di Desa Hurah Bani Bayadhah pada sebuah lembah yang disebut dengan
Naqi’ al-Khashimaat. Aku bertanya padanya : “Kalian berapa orang pada saat itu
?” Beliau menjawab : “Empat puluh orang.” (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah, Ibnu
Hibban dan Hakim. Berkata Baihaqi : hadits hasan dengan isnad sahih)
Berkata Hakim : “Hadits ini shahih
atas syarat Muslim.”
Jalan pendalilian dengan hadits ini
dikatakan, Ijmak ulama keabsahan shalat Jum’at harus dengan memenuhi
persyaratan bilangannya. Maka tidak sah shalat Jum’at kecuali dengan bilangan
yang ditetapkan syara’(tauqif). Berdasarkan hadits di atas, Jum’at boleh
dilakukan dengan bilangan empat puluh orang. Maka tidak boleh mendirikan Jum’at
dengan bilangan yang kurang dari itu kecuali ada dalil yang menjelaskannya.
Sedangkan hadits Rasulullah SAW menerangkan :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Artinya : Shalatlah sebagaimana
kamu melihat aku shalat.(H.R. Bukhari dan Baihaqi)
Pendalilian seperti ini telah disebut
oleh Ibnu Mulaqqan dalam Badrul Munir. Keterangan bahwa pada jum’at tidak boleh
tidak dari bilangan jum’at, juga dikemukakan oleh al-Suyuthi. Jalan pendalilian lain disebut oleh
al-Khithabi al-Busty, yaitu : Jum’at yang terjadi pada kisah hadits di atas
merupakan Jum’at kali pertama dalam sejarah Islam. Oleh karena itu, semua
keadaannya menjadi wajib pada Jum’at, karena hal itu merupakan penjelasan
(bayan) atas mujmal yang wajib. Sedangkan bayan mujmal yang wajib adalah wajib.
Hadits-hadits lain yang mendukung
antara lain :
2. Hadits dari Jabir, beliau berkata :
مضت السنة أن في كل أربعين فصاعدا
جمعة
Artinya : Sudah berlaku sunnah
bahwa pada setiap empat puluh orang dan selebihnya boleh dilaksanakan shalat
Jum’at.(H.R. al-Darulquthni)
Hadits ini juga diriwayat oleh
Baihaqi.
3. Hadits dari Abu al-Darda’, beliau
berkata :
ان رسول الله صلعم قال إذا اجتمع
أربعون رجلا فعليهم الجمعة
Artinya : Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Apabila berkumpul empat puluh orang laki-laki, maka wajib
atasnya shalat Jum’at.”
4. Hadits dari Abu Umamah, beliau
berkata :
أن النبي صلعم قال لا جمعة الا
باربعين
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW
bersabda : “Tidak ada Jum’at kecuali dengan empat puluh orang.”
5. Hadits Ibnu Mas’ud, beliau berkata
:
جمعنا رسول الله صلعم نحن أربعون رجلا
Artinya : Kami shalat Jum’at
bersama Rasulullah SAW, kami waktu itu empat puluh orang (H.R. Baihaqi)
6. Al-Raqi mengatakan :
أتانا كتاب عمر بن عبد العزيز إذا بلغ أهل القرية أربعين رجلا
فليجمعوا
Artinya : Datang kepada kami surat
dari Umar bin Abd al-Aziz, “Apabila penduduk suatu egara sampai empat puluh
orang laki-laki, maka hendaklah melakukan jum’at.” (H.R. Baihaqi)[23]
Berikut ini beberapa hadits mengenai
bilangan Jum’at yang digunakan untuk menolak pendapat bahwa bilangan Jum’at
haruslah empat puluh orang dengan disertai penjelasan kualitas hadits tersebut,
antara lain :
7. Hadits Nabi SAW :
على خمسين جمعة ليس فيما دون ذلك
Artinya : Kewajiban Jum’at atas
lima puluh orang, tidak dibawah itu.(H.R. Baihaqi dan Darulquthni)
Berkata al-Baihaqi : “Hadits ini tidak
sah isnadnya.”
2. Hadits
riwayat Ummul Abdullah al-Dausiyah, berkata :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الجمعة واجبة على كل
قرية وإن لم يكن فيها إلا أربعة
Artinya : Rasulllah SAW bersabda ;
“Jum’at wajib atas setiap egara, meskipun tidak ada pada perkampungan itu
kecuali empat orang.”(H.R. Darulquthni)
Hadits ini
diriwayat oleh Mu’awiyah bin Sa’id al-Tajibi dari al-Zahry dari Ummul Abdullah
al-Dausiyah. Darulquthni mengatakan : “Tidak sah ini dari al-Zahri.”[26]
Dalam mensyarah hadits di atas, Abady
Abu al-Thaib mengatakan :
“Hadits
ini dikeluarkan oleh Darulquthni dalam tiga jalur, (maksudnya, ini yang pertama
dan setelah ini adalah dua dan tiga) semuanya dha’if,”
8. Dalam riwayat lain, Ummul Abdullah
al-Dausiyah mengatakan :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الجمعة واجبة على كل قرية فيها
إمام وإن لم يكونوا إلا أربعة
Artinya : Berrsabda Rasulullah SAW : “Jum’at
wajib atas setiap perkampungan yang ada imam, meskipun tidak ada pada
perkampungan itu kecuali empat orang.” (H.R. Darulquthni)
Hadits ini diriwayat oleh Walid bin
Muhammad dari al-Zahri dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Darulquthni mengatakan
:
“Walid bin Muhammad
al-Muqiri matruk (ditinggalkan). Tidak sah ini dari al-Zahri dan setiap orang
yang meriwayat darinya adalah matruk (ditinggalkan).”
9. Dalam riwayat lain lagi, Ummul
Abdullah al-Dausiyah mengatakan :
سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول
الجمعة واجبة على أهل كل قرية وإن لم يكونوا إلا ثلاثة رابعهم إمامهم
Artinya : Aku mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Jum’at wajib atas penduduk setiap perkampungan, meskipun tidak
ada mereka kecuali tiga orang, dimana yang keempat dari mereka adalah
imam.”(H.R. Darulquthni)
Hadits ini diriwayat al-Hukm bin
Abdullah bin Sa’ad dari al-Zahri dari Ummul Abdullah al-Dausiyah. Setelah
meriwayat hadits ini, Darulquthni mengatakan :
“Al-Zuhri tidak sah mendengar dari
al-Dausiyah.”
2). Masalah Adzan sebelum Shalat
Jum’at
Adzan Jum’at pada masa Rasulullah
adalah 1 kali, adapun pelaksanaan adzan dua kali pada shalat jum’at ini di
temukan riwayatnya pada zaman Khalifah Ustman bin Affan Ra, karena pengaruh
lingkungan seperti makin ramainya jumlah penduduk dan segala aktifitas penduduk
semakin padat dan sibuk, yakni seperti perdagangan yang tumbuh dan berkembang
dengan pesat seiring dengan kemajuan zaman. Dengan demikian azan dua kali
diperbolehkan apabila keadaan memang membutuhkannya.
3). Membaca Innallaha wa malaikatahu yushaalluna
‘alannabi sebelum khutbah Jum’at
Imam Ar-Ramli ditanyai tentang seorang
yang maju keluar didepan khatib, berkata ayat; Innallah wa malaikatahu
yushaalluna ‘alannabi, apakah itu asal pada sunnah dan ada diperbuat dihadapan
Nabi SAW sebagaimana dilakukan sekarang atau ada diperbuat oleh salah seorang
Sahabat Nabi atau Tabi’in semoga ridha Allah untuk mereka, dengan sifat-sifat
tersebut ? Imam Ar-Ramli menjawab :
“ Bahwa
yang demikian itu tidak asal pada sunnah dan tidak diperbuat dihadapan Nabi SAW
bahkan Rasulullah tidak terburu-buru ke mesjid pada hari Jum’at sehingga
berkumpul manusia. Maka apabila manusia telah berkumpul, Beliau keluar sendiri
tanpa orang yang egar bersuara keras dihadapannya. Apabila masuk mesjid, beliau
egara salam kemudian apabila naik mimbar, beliau menghadap manusia dengan
wajahnya seraya egara salam, kemudian duduk dan Bilalpun melakukan azan.
Apabila sudah selesai dari azan, Beliau berdiri berkhutbah tanpa pemisahan
antara azan dan khutbah, tidak dengan atsar dan tidak dengan khabar dan juga
tidak dengan lainnya. Demikian juga keadaan para khalifah yang tiga sesudahnya.
Oleh karena itu, dapat dimaklumi bahwa sesungguhnya ini adalah bid’ah tetapi
bid’ah hasanah. Maka pembacaan ayat yang mulia merupakan pemberitahuan dan menggemarkan
mendatangkan shalawat kepada Nabi SAW pada ini hari (jum’at) hari yang mulia
yang dituntut memperbanyak shalawat. Membaca khabar sesudah azan dan sebelum
khutbah dapat mengingatkan mukallaf untuk menjauhi kalam yang haram atau makruh
pada ini waktu berdasarkan ikhtilaf ulama tentang ini. Sesungguh Rasulullah SAW
mengatakan khabar ini atas mimbar pada saat khutbahnya”
4). Menggunakan Tongkat dalam Khutbah
Sunnah hukumnya memegang tongkat
dengan tangan kirinya pada saat membaca khutbah. Dalilnya sebagai berikut :
الحكم بن حزن رضي الله عنه قال " وفدت
الي النبي صلي الله عليه وسلم فشهدنا معه الجمعة فقام متوكئا علي قوس أو عصي فحمد الله
وأثنى عليه كلمات خفيفات طيبات مباركات
Artinya : Al-Hakm bin Hazn r.a.
berkata, Aku tiba kepada Nabi SAW, kami bersama beliau melakukan ibadah Jum’at,
beliau berdiri bertongkat atas busur atau tongkat, maka beliau memuji Allah dan
menyanjungi-Nya dengan kalimat-kalimat yang ringan, baik dan penuh berkat.
(H.R. Abu Daud dan lainnya dengan sanad hasan)
5). Shalat Jum’at bertepatan dengan
shalat hari raya
Para ulama berbeda pendapat mengenai
egar shalat Jum’at yang bertepatan dengan Shalat Raya. Syafi’I dan pengikutnya
berpendapat jatuh hari raya pada hari Jum’at tidak menghilangkan kewajiban
Shalat Jum’at pada hari tersebut atas penduduk yang ada sekitar mesjid
(penduduk balad). Pendapat ini juga merupakan pendapat Usman bin Affan, Umar
bin Abdul Aziz dan jumhur ulama. Itha’ bin Abi Ribaah berpendapat atas penduduk
balad maupun penduduk dusun tidak wajib shalat Jum’at, shalat Dhuhur dan
lainnya kecuali shalat ‘Ashar pada hari tersebut. Menurut Ibnu Munzir pendapat
ini juga merupakan pendapat Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Zubair. Ahmad
mengatakan gugur shalat Jum’at atas penduduk balad maupun penduduk dusun,
tetapi wajib atas mereka shalat Dhuhur. Abu Hanifah berpendapat Jum’at tidak
gugur sama sekali, baik atas penduduk balad maupun penduduk dusun.[32]1
Pendapat Abu Hanifah ini juga merupakan pendapat sebagian ulama dari kalangan
Syafi’I yang masuk dalam katagori dha’if.[33]
Sebagimana disebut di atas, menurut
Mazhab Syafi’I bertepatan hari raya pada hari Jum’at tidak menghilangkan
kewajiban Shalat Jum’at pada hari tersebut atas penduduk yang ada sekitar
mesjid (penduduk balad). Adapun penduduk yang dusun (ahlu qura) yang jauh dari
mesjid diberikan keringan tidak melakukan shalat Jum’at pada hari itu.[34]
Tidak menggugurkan jum’at yang bertepatan dengan hari raya karena dhahir firman
Allah Q.S. al-Jum’at : 9 berlaku kapan saja dan dengan keadaan bagaimana saja.
Ayat tersebut berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ
لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : Hai orang-orang beriman,
apabila egara untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu
jika kamu mengetahuinya.(Q.S. al-Jum’ah : 9)
Dua hadits di bawah ini dijadikan
dalil oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa shalat hari raya menggugurkan
kewajiban shalat Jum’at apabila hari raya bertepatan dengan hari Jum’at, yaitu
antara lain :
10. Hadits Nabi SAW
عن إياس بن أبي رملة الشامي قال شهدت معاوية
بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال
أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه و سلم
عيدين اجتمعا في يوم ؟ قال نعم قال فكيف صنع ؟ قال صلى العيد ثم رخص في الجمعة فقال
" من شاء أن يصلي فليصل
Artinya : Dari Iyaas bin Abi
Ramalah al-Syami, beliau berkata aku telah menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan
bertanya kepada Zaid bin Arqam, Mu’awiyah berkata : “Apakah engkau ada
menyaksikan pada masa Rasulullah SAW berhimpun dua hari raya pada satu hari ?
Zaid bin Arqam menjawab : “ya”. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi : “Bagaimana
yang dilakukan Rasulullah ? “Rasulullah melakukan shalat hari raya dan membolehkan
tinggal shalat Jum’at” jawab Zaid bin Arqam. Maka berkata Mu’awiyah :
“Barangsiapa yang menginginkan shalat, maka hendaknya dia shalat”. (H.R. Abu
Daud)
11. Hadits Nabi SAW
قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أجزأه
من الجمعة وإنا مجمعون
Artinya : Sesungguhnya pada hari
ini telah berhimpun dua hari raya. Barang siapa yang menginginkan, maka memadai
untuk Jum’at. Tetapi sesungguhnya kami melaksanakan Jum’at. (H.R. Abu Daud)
Untuk menjawab pendalilian ini, kita
jelaskan dulu bagaimana keadaan masjid pada zaman Rasulullah. Pada zaman beliau
masjid jami` (masjid besar yang digunakan untuk shalat jum`at) hanya ada di
pusat kota Makkah atau Madinah, sedangkan yang di desa-desa/pedalaman hanya ada
masjid-masjid kecil, atau sering disebut mushalla, yang tidak mampu menampung
jumlah besar jamaah yang egara untuk shalat jum`at atau shalat Ied. Oleh karena
itu, masyarakat yang tinggal di desa/pedalaman bila ingin melaksanakan shalat
Jum`at atau Ied, mereka pergi ke masjid besar, atau yang sering disebut masjid
jami’. Mereka memerlukan perjalanan yang cukup meletihkan untuk pergi ke masjid
jami` tersebut. Suatu ketika hari raya bertepatan jatuh pada hari jum`at. Ini
yang menyebabkan orang-orang yang tinggal di desa merasa kerepotan, karena
harus pergi ke masjid jami’ dua kali dalam sehari, padahal perjalanan yang
ditempuh terkadang cukup jauh. Bila mereka harus menunggu di masjid sampai
waktu jum`at, tentu itu terlalu lama bagi mereka. Meskipun begitu sebagian
sahabat yang dari pedalaman, ada yang berusaha menunggu di masjid jami’ sampai
datangnya waktu jum`at. Sebagian lain ada yang kembali ke desa dan kembali lagi
waktu shalat Jum’at. Melihat keadaan yang seperti ini, Rasulullah memberikan
keringanan kepada penduduk yang tinggal di desa untuk pulang ke desa tanpa
perlu balik lagi ke mesjid jami’ untuk melaksanakan shalat Jum’at pada hari
raya. Dengan demikian dua hadits di atas tidak dapat menjadi dalil menggugurkan
kewajiban shalat Jum’at apabila bertepatan dengan shalat hari raya.
6). Masalah I’adah Dhuhur
I’adah Dhuhur adalah melakukan shalat
dhuhur sesudah selesai shalat Jum’at karena shalat Jum’at ternyata tidak sah
atau dikuatirkan tidak sah. I’adah shalat Dhuhur ini yang biasanya dilakukan
oleh kalangan pengikut Mazhab Syafi’I kalau dirincikan dilakukan dengan
beberapa sebab, antara lain :
Jumlah jama’ah Jumat kurang dari 40
orang
Karena itu, kalau jama’ah tetap
berpegang kepada pendapat yang rajih dari Syafi’I bahwa ahli Jum’at harus 40
orang, maka apabila kurang, wajib i’adah Dhuhur dan kalau berpegang kepada qaul
qadim Syafi’I (pendapat dhaif dalam Mazhab Syafi’i) memadai 4 orang, maka
i’adah Dhuhur sunnat hukumnya, untuk ihtiyath (hati-hati)
Jumlah masjid yang menyelenggarakan
shalat Jum’at di desa tersebut lebih dari satu masjid dengan tanpa egara
dharurat. Pada saat itu, Jum’at yang sah hanya Jum’at yang lebih duluan
takbiratul ihramnya
Karena itu, apabila dipastikan, diduga
(dhan) atau diragukan lebih duluan takbiratul ihram Jum’at lain, maka wajib
i’adah Dhuhur
7). Menyelangi Wasiat dengan Bahasa
Non Arab
Ahli fiqh selain Mazhab Hanafi sepakat
mensyaratkan rukun khutbah dibaca dalam bahasa Arab. Ini tidak menjadi
persoalan di saat khutbah Jum’at tersebut diucapkan untuk ahli Jum’at yang
mengerti Bahasa Arab. Namun akan menjadi persoalan disaat khutbah tersebut
diperuntukkan kepada ahli Jum’at yang tidak mengerti Bahasa Arab seperti di
Indonesia dan egara-negara Islam non Arab lainnya. Padahal diharapkan dari
khutbah trsebut menjadi wadah mengajak umat Islam untuk meningkatkan pengamalan
agamanya. Untuk menjawab persoalan tersebut, umat Islam dunia dewasa ini dalam
prakteknya memberikan solusi dengan memberikan ceramah agama dalam Bahasa non
Arab (bahasa setempat) yang mudah dimengerti oleh ahli Jum’at setempat dengan
tiga model, yakni :
1. Melakukan ceramah dalam Bahasa non
Arab (bahasa setempat) sebelum masuk dua khutbah yang berbahasa Arab (ini biasa
dilakukan oleh kalangan mazhab Syafi’I di Indonesia)
2. Melakukan khutbah dalam Bahasa Arab
secara sempurna, kemudian baru melakukan ceramah dalam bahasa non Arab (bahasa
setempat)
3. Melakukan ceramah dalam Bahasa non
Arab (bahasa setempat) di antara rukun –rukun khutbah, yaitu setelah rukun
wasiat. (Ini biasa dilakukan oleh kalangan modernis di Indonesia)
Model kedua dan ketiga ditolak
dilakukannya oleh kebanyakan kalangan mazhab Syafi’I di Aceh dan Indonesia pada
umunya, karena dengan beralasan khutbah seperti itu menjadi batal menurut fatwa
ulama-ulama mu’tabar dalam mazhab Syafi’I, dimana berdasarkan fatwa ulama
Mazhab Syafi’I, ada kewajiban muwalaat (berturut-turut) antara rukun-rukun
khutbah dan antara khutbah dan shalat Jum’at. Ukuran muwalaat ini dikembalikan
kepada ‘uruf. Menurut Imam ar-Rafi’i (salah seorang ulama terpengaruh dalam
mazhab Syafi’i dan pendapatnya dianggap sebagai pendapat mu’tamad), ukuranya
adalah sama dengan ukuran muwalaat shalat jamak (yaitu ukuran dua raka’at
sederhana). Adapun masalah menyelangi dengan nasehat agama dalam bahasa non
Arab antara rukun-rukun khutbah apabila dalam ukuran yang lama, maka itu dapat
menghilangkan muwalaat menurut Imam Ramli karena sama dengan diam yang lama.
Sedangkan menurut ‘Ali Syibran al-Malusi berpendapat muwalaat tidak hilang
meskipun dalam ukuran lama, karena nasehat agama dalam bahasa non Arab meskipun
dalam ukuran lama, secara umum masih dalam katagori wasiat. Pendapat Imam Ramli
dianggap lebih rajin
Sumber : http://www.kitab-kuneng.blogspot.com
[1] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin,
dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. I, Hal. 268
[2] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin,
dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. I, Hal. 271-277
[3] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin,
dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. I, Hal. 277-278
[4] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin,
dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. I, Hal. 283-289
[5] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin,
dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. I, Hal. 278-281
[6] Al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin,
dicetak pada hamisy Qalyubi wa Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,
Indonesia, Juz. I, Hal. 280-283
[7] Turmidzi, Sunan al-Turmidzi,
Maktabah Syamilah, Juz. II, Hal. 402
[8] Al-Bakri al-Damyathi, I’anah
al-Thalibin, Thaha Putra, SEmarang, Juz. II, Hal. 57. Lihat juga al-Suyuthi,
al-Hawi lil-Fatawi , Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 66
[9] Al-Khithabi al-Busty, al-Ma’alim al-Sunan,
al-Mathba’ah al-Ilmiyah, Juz. I, Hal. 245
[10] Umairah, Hasyiah Qalyubi wa
‘Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 274
[11] Al-Bakri al-Damyathi, Taqrir
I’anah al-Thalibin, dicetak pada hamiys I’anah al-Thalibin, Thaha Putra,
Semarang, Juz. II, Hal. 58-59
[12] Ibnu Mulaqqan, Tuhfah al-Muhtaj
ila adallah al-Minhaj, Juz. I, Hal. 494. Lihat juga Baihaqi, Sunan al-Baihaqi,
Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 177, No. Hadits : 5396
[13] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 600
[14] Baihaqi, Sunan Baihaqi, Maktabah
Syamilah, Juz. II, Hal. 345, No. Hadits : 3672
[15] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 600
[16] Al-Suyurhi, al-Hawi lil-Fatawi,
Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Juz. I, Hal. 66
[17] Al-Khithabi al-Busty, al-Ma’alim
al-Sunan, al-Mathba’ah al-Ilmiyah, Juz. I, Hal. 245
[18] Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul
Maram, Mathba’ah al-Salafiah, Mesir, Hal. 106
[19] Baihaqi, Sunan al-Baihaqi,
Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 177, No. Hadits : 5397
[20] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 595-596
[21] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
[22] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 598
[23] Baihaqi, Sunan al-Baihaqi,
Maktabah Dar al-Baz, Makkah, Juz. III, Hal. 178
[24] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
[25] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir,
Darul Hijrah, Juz. IV, Hal. 596
[26] Darulquthni, Sunan Darulquthni,
Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 7
[27] Abady Abu al-Thaib, ‘Aun
al-Ma’bud, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 995
[28] Darulquthni, Sunan Darulquthni,
Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 8
[29] Darulquthni, Sunan Darulquthni,
Darul Makrifah, Beirut, Juz. II, Hal. 9
[30] Imam Ar-Ramli, Fatawa ar-Ramli,
dicetak pada hamisy al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiah, Darul Fikri, Beirut, Juz. I,
Hal. 276-277
[31] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah
al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 526
[32] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah
Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Yeddah, Juz. IV, Hal. 359
[33] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah
Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Yeddah, Juz. IV, Hal. 358
[34] Al-Nawawi, Majmu’ Syarah
Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Yeddah, Juz. IV, Hal. 358
[35] . Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul
Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 348, No. Hadits 1070
[36] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul
Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 349, No. Hadits 1073
[37] Lihat Amin al-Kurdy, Tanwirul
Anwar, Thaha Putra, Semarang, Hal. 177-178 dan I’anah al-Thalibin, Juz. II, Bab
Jum’at
[38] Abdurrahman al-Jaziry, Al-Fiqh
‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, Hakikat Kitabevi, Istambul, Juz. II, Hal. 71
[39] Qalyubi, Hasyiah Qalyubi wa
Umairah, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 281
[40] Syarwani, Hasyiah ‘ala Tuhfah
al-Muhtaj, Mathba’ah Mushtafa Muhammad, Mesir, Juz. II, Hal. 450

0 Response to "TATA LAKSANA SHOLAT JUMAT"
Posting Komentar